Berburu Jajanan Tradisional di Pasar Papringan

Redaksi Pesona

24 November 2018

Ini bukan pasar biasa. Pasar Papringan namanya, digagas oleh Singgih Kartono, untuk mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar. Mereka yang terlibat di Pasar Papringan, adalah warga setempat.

Pasar Papringan buka dari pukul 6 pagi. Sebaiknya, sepagi itu pula kita sambangi pasar ini. Sebab, semakin pagi, biasanya masih cenderung belum ramai pengunjung. Jadi bisa icip semua yang didagangkan di sana. Sebelum jajan, tukarkan dulu uang tunaimu dengan kepingan bambu di pos penukaran, seharga dua ribu rupiah perkeping. Di Pasar Papringan, hanya koin pring ini yang berlaku untuk transaksi.

Terdapat puluhan jenis makanan tradisional yang dijual di Pasar Papringan. Seluruh penjajanya, adalah ibu rumah tangga. Sebelum berjualan, mereka semua mendapatkan bimbingan dari tim Pasar Papringan mengenai standar kebersihan, rasa, jumlah porsi serta harga. Bisa dipastikan, semua sajian yang ada di sana bebas dari penyedap rasa, pewarna buatan maupun pengawet.

Mulai dari aneka keripik, jajanan ringan, sampai makan berat... semua ada! Yang sudah saya icip, semuanya saya suka. Sebut saja Lontong Mangut, Gablok Pecel, Sego Jagung, Soto Ayam Kampung, Lesah Ayam, Sego Abang, Gulai Ayam Kampung atau Bubur Jangan. Kemudian Sawut Nanas, Ndas Borok, Srengkulun dan Ongol Ongol... Wih, sedap!

Jangan lewatkan juga kios penjaja kopi dan kios jamu. Mau yang lebih unik? Cobain Wedang Pring, minuman hangat yang dibuat dari daun bambu. Dicampur sari alang-alang dan gula cengkeh. Rasanya khas banget!

Ada apa lagi selain makanan? Banyak. Ada area baca, tempat bermain anak, sudut berinteraksi dan memberi makan hewan, jasa pijat, hingga jasa cukur rambut juga ada!

Hal yang lebih menyenangkan lagi, area Pasar Papringan ini adem. Rindang, hanya ada sinar Matahari yang sesekali menyeruak di antara rumpun bambu. Bagi perokok, disediakan area merokok di dekat sudut luar pasar. Artinya, di area dalam pasar jadi sangat aman dan nyaman.

Di sebuah sudut, ada beberapa sepeda bambu berjejer. Spedagi, demikian merek sepeda tersebut, dibuat oleh Singgih, yang juga penggagas Pasar Papringan ini. Biasanya di sudut ini banyak pengunjung berinteraksi dengan Singgih dan keluarganya serta para pengurus pasar.

Menariknya, Pasar Papringan ini eco-friendly juga, loh! Dengan konsep ini, pengunjung berbelanja menggunakan keranjang bambu. Bahkan untuk mencuci perangkat makan minum, mereka menggunakan lerak sebagai pengganti sabun. Ini jadi satu nilai tambah yang mungkin bisa ditiru dan diterapkan di berbagai usaha bisnis lain di Indonesia.

Sempatkan berkunjung ke Pasar Papringan ini. Percayalah, bukan hanya lidah yang terhibur, maupun perut yang dikenyangkan. Namun perasaan pun juga ikut dibuat senang!

Foto: Ade Putri


Review 1


Jadi kangen pengen makan jajan pasar

Lisnawati