Menyantap Kesederhanaan yang Segar di Banda Neira

Redaksi Pesona

17 November 2018

Akhir tahun lalu, salah satu mimpi saya akhirnya tercapai, pergi ke Indonesia Timur! Tepatnya, Banda Neira. Sebuah pulau yang namanya sudah tak asing lagi bagi saya. Apalagi, beberapa saat sebelumnya, saya baru saja menyaksikan film dokumenter tentang sejarah pulau ini, karya sutradara Jay Subiyakto. Jadilah, tingkat kegembiraan saya mencapai puncaknya.

Pesawat yang saya dan teman-teman tumpangi, dari Jakarta menuju ke Ambon. Dari Ambon, kami masih harus naik speed boat dengan waktu tempuh hampir enam jam. Lama ya? Tapi sepanjang perjalanan di Laut Banda yang dalam dan luas, di mana nyaris saya tak dapat memandang daratan, saya justru dibuat menganga dengan keberadaan sperm whale yang terus menyemburkan air ke atas.

Pemandangan memesona ini secara berkala muncul, sebelum akhirnya saya kembali menganga saat kapal akan memasuki Kepulauan Banda yang menyerupai gerbang jajaran pulau berselaput rentetan awan... Indahnya bukan kepalang!

Pada pagi dan malam hari, di beberapa sudut Banda Neira, terdapat penjual ikan asar. Ikan, umumnya tuna berukuran sedang, dimatangkan dengan cara diasap. Mereka sekaligus juga menjajakan sumber karbohidratnya, berupa buras dan suami, serta sambal rica sebagai pelengkap. Buras ini terbuat dari beras. Mirip lontong, hanya saja cita rasanya lebih gurih.

Sedangkan suami, terbuat dari ubi kayu yang diparut, diperas sari patinya, lantas dikukus. Biasanya di meja sang penjaja, suami berbentuk kerucut, sebelum akhirnya dipotong sesuai pembelian. Suami sendiri cita rasanya cenderung tawar, dengan tekstur padat agak kenyal.

Jadi biasanya saya menghabiskan 25 ribu Rupiah untuk sepotong besar ikan asar, 3 tangkap buras, dan semangkuk sambal rica. Ini bisa buat makan berdua atau bertiga. Sedap banget!

Menariknya lagi, saya juga dapati jajanan dari sebuah warung kecil milik Mama Aisya. Namanya, kue cara. Bentuknya mirip kue lumpur, hanya saja dalam versi rasa gurih asin. Topping-nya tuna suwir yang ditumis dengan bawang dan cabe. Harganya kurang dari seribu Rupiah perbuahnya. Wah!

Saya pun menyempatkan diri memasak saat di Banda Neira. Memanfaatkan kesempatan besar, menikmati ikan segar yang baru ditangkap langsung dari laut! Kebetulan pula, saat itu ada pembukaan Pesta Rakyat Banda. Sekalian pula dapat menyajikan santapan baru buat acara tersebut.

Dari tuna segar, saya membuat Gohu Tuna, santapan mirip ceviche yang cukup populer di daerah Maluku Utara, namun disajikan di atas keripik pisang. Teman saya, Rahung Nasution, membuat colo-colo dengan cacahan buah pala segar dan suwiran ikan marlin asin di atas talas goreng. Sementara Jodie, membuat roti kering dioles selai pala, manisan pala, dan kacang kenari. Intinya, kami membuat santapan dengan tampilan baru, yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di Banda Neira.

Sempat di suatu pagi, saya mengajak teman-teman untuk ke pinggir laut, mengambil bulu babi yang jumlahnya puluhan. Bulu babi, yang dikenal sebagai sea urchin dalam bahasa Inggris. Bentuknya lebih mirip alien. Lumayan repot membuka cangkangnya, karena dipenuhi duri.

Namun begitu berhasil, rasanya seperti menang perang, saat tinggal menciduk isinya. Rasa daging mentahnya segar, perpaduan rasa laut yang briny dan legit. Bisa ditambahkan perasan jeruk lemon untuk mengimbangi dengan masam segar saat menikmatinya.

Bicara olahan sayur, yang berkesan buat saya adalah Terong Kenari. Sebenarnya sederhana sekali, terong dibelah lantas dipanggang, kemudian disiram dengan kenari tumbuk yang sudah ditumis dengan cabe, bawang, dan bumbu-bumbu. Rasanya gurih sekali.

Sempat berbincang dengan Mama Aisya saat saya belajar mengolah kue cara di dapur beliau, "Kami tidak ada yang suka makan sapi atau ayam. Karena sejak kecil, kami semua di Banda sudah terbiasa makan ikan. Ikan segar, tinggal ambil dari laut," Benar juga. Saat mampir ke sebuah rumah makan, kami dapati bahwa harga santapan ayam pasti dua kali lipat dibanding yang berbahan dasar ikan.

Jelas, saya akan kembali ke Banda Neira. Tak hanya pemandangannya yang luar biasa indah, santapannya yang sederhana dengan bahan baku dari laut yang segar telah mencuri hati sejak pertama. Kalau sempat mampir ke pasar ikan, perhatikan saja bagaimana mereka menjual dengan slogannya yang jelas, "Ikan mati sekali!". Iya, sebegitu segarnya, belum sempat dibekukan, lantas keluar dan beku lagi, seperti layaknya ikan di umumnya daerah luar Indonesia Timur.

Foto: Ade Putri


Review 7


Info yang menarik nih tentang Banda Naira. Yuk mampir juga ke instagramku sudah ikutan juga event share kulinee di Banda Aceh https://www.instagram.com/p/BrNdd90AI5O/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=hfz2lp2xyyip

Nunung harini


Kuliner sehat di badan sehat di kantong nih. Pasti lezat tuh ikan asar dimix sambal rica dan suami...hmmm bikin lidah bergoyang dan ingin nambah lagi hehe sejenak lupakan diet dsh kalo dah ketemu kuliner favorit dari ikan khas Banda Naira.Salam dari Banda Aceh!

Nunung harini


Wow..jadi penasaran nih dgn sensasi daging bulu babi.Kuliner yg belum.pernah kucoba.Semoga bisa nyusul travelling ke sana spy lengkap mencoba tantangan makanan ekstreem dari Banda Naira.

Nunung harini


Waw..keren..jadi ingin mencicipi kuliner khas Banda Naira.Next destination yang mesti dikunjungi.Terimakasih infonya

Nunung harini


Waw..keren..jadi ingin mencicipi kuliner khas Banda Naira.Next destination yang mesti dikunjungi.Terimakasih infonya

Nunung harini