Ritual 10 Tahun Sekali di Festival Rakyat Banda 2018

Redaksi Pesona

09 November 2018

Kepulauan Banda yang masuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah di Provinsi Maluku itu memiliki bentang alam yang indah dan warisan budaya yang serba unik dan begitu kaya. Keindahan dan keunikan itulah yang ingin ditampilkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Maluku dalam acara tahunan Festival Rakyat Banda. Tahun ini, acara meriah tersebut kembali digelar di Banda Neira, pada tanggal 11 hingga 14 November 2018.

Dalam festival tersebut, ada banyak acara menarik dan menyenangkan yang disuguhkan, mulai dari pertunjukan tari, musik, dan teater, disusul pameran kerajinan, bahkan bazaar kuliner yang tentunya menarik perhatian wisatawan.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat aneka pameran dan workshop, juga memahami lebih dalam soal sejarah rakyat yang akan ditampilkan dalam bentuk dialog.Kita juga bisa menyaksikan keseruan rakyat yang mengikuti perlombaan perahu belang tradisional, lho.

Perahu belang sendiri sudah lama dimanfaatkan warga untuk menjaga keamanan Pulau Banda. Perahu tersebut adalah kapal yang didayung oleh 30-40 orang. Kapal ini identik dengan bangsa Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Denmark yang memakai rumbai kepala dan ekor naga di belakang perahu, serta memakai seram.


Ritual 10 Tahun Sekali
Namun, Festival Rakyat Banda tahun ini memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini festival menjadi istimewa karena akan dimeriahkan dengan adanya ritual langka yang hanya digelar 10 tahun sekali, yaitu ritual cuci sumur atau cuci parigi.

Ritual ini merupakan sebuah tradisi adat yang dilakukan dengan mencuci dua buah sumur kembar tua di Desa Lonthor, desa tertua di Kepulauan Banda. Karena adat ini sangat langka dan dihormati, seluruh orang Banda yang sedang merantau di kota lain sampai rela pulang kampung demi menghadiri acara ini.

Sumurnya sendiri cukup aneh dan unik. Letak kedua sumur ini berdampingan dan memiliki dasar yang saling berhubungan. Namun, air yang ada di sumur tersebut justru berbeda. Yang satu berisi air jernih yang bisa langsung diminum, sementara yang lain berisi air payau.

Saat cuci parigi, masyarakat kampung digiring untuk mengeringkan sumur dengan selembar kain tanpa sambungan selebar satu meter dengan panjang sekitar 100 meter. Masyarakat Lonthor menyebutnya kain gajah. Kain inilah yang kemudian digotong dan dimasukkan ke dalam sumur sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku di sana.


Review 2


Tradisi unik dan perlu dilestarikan karena bisa mendongkrak para pelancong dan para turis asing buat kesana.. Apalagi tradisi nya unik banget..

Putri Mutiarasani


Waah jadi pengen kesana. Festival yang diadakan 10tahun sekali. Semoga Mimin pesona.travel meliput acara cuci sumur dan cuci paringi. Upload di YouTube ya min, penasaran pengen liat. #PesonaIndonesia #PesonaIsataIndonesia #PesonaWisataMaluku #WonderfulIndonesia

Ningtyas Hadiastuti