Kendari

Kendari merupakan kota terbesar di pulau tersebut sekaligus ibukota dan pintu gerbang untuk memulai petualangan di sekitar Provinsi Sulawesi Tenggara. Penduduk asli Provinsi ini adalah Tolaki, Morunene, Buton, Muda dan Bajo. Kendari memiliki populasi terbesar keempat di Sulawesi, menyusul Makassar, Manado dan Palu.

Kota Kendari sebelumnya bernama Kandai, juga terkadang disebut Kantahi oleh penduduk setempat. Jika diterjemahkan secara harfiah maka artinya adalah daerah pesisir. Terbentuknya Kota Kendari diawali dengan terbukanya daerah ini menjadi pelabuhan pedagang, khususnya pedagang Bajo dan Bugis. Mereka menampung hasil bumi dari pedalaman dan sekitar Teluk Tolo di Sulawesi Tengah. Barang-barang tersebut selanjutnya dikirim ke Makassar atau kawasan barat Nusantara hingga Singapura.

Berita tertulis pertama tentang Kota Kendari diperoleh dari tulisan Vosmaer (1839) yang mengunjungi Teluk Kendari untuk pertama kalinya pada 9 Mei 1831 dan membuat peta Teluk Kendari. Sejak itu Teluk Kendari dikenal dengan nama Vosmaer’s Baai (Teluk Vosmaer). Vosmaer kemudian mendirikan kantor dagang di sisi utara Teluk Kendari. Pada Tahun 1832 Vosmaer mendirikan rumah untuk Raja Laiwoi bernama Tebau, yang sebelumnya bermukim di Lepo-lepo.

Dilihat dari informasi tersebut maka Kota Kendari telah ada pada awal abad ke-19 dan secara resmi menjadi ibu kota Kerajaan Laiwoi tahun 1832, dengan ditandai pindahnya istana Kerajaan Laiwoi di sekitar Teluk Kendari.

Kota Kendari di masa Pemerintahan Kolonial Belanda merupakan ibukota kewedanaan yang luas wilayahnya pada masa itu kurang lebih 31.420 km2. Sejalan dinamika perkembangan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan laut antarpulau, Kendari tumbuh menjadi ibukota kabupaten dan masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Berbagai atraksi wisata menarik ditawarkan oleh kota ini baik di sepanjang laut maupun daratannya, salah satunya adalah Teluk Kendari yang ditinggali sekira 100.000 orang. Kota ini juga bangga akan hasil kayu ulin yang diproduksi perajin terampil yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Anda akan sering menemukan acara seremonial meriah di jalanan sekitar Kendari. Acaranya begitu unik karena terkadang ditutup oleh tarian lokal yaitu Tari Lulo yang dilakukan pria dan wanita lokal. Semua orang yang datang akan diajak menari sebagai simbol perpisahan yang harmonis.

Mayoritas wilayah Sulawesi Tenggara, termasuk Kendari, dikaruniai oleh hutan alam. Terdapat juga perkebunan yang luas dimana kayu jati dan kayu ulin dihasilkan. Bagi Anda yang gemar berpetualang dan ekowisata, Sulawesi Tenggara sangat ideal untuk itu. Anda akan menemukan banyak tempat snorkeling dan menyelam di sekitar Kendari sebelum mencicipi indahnya alam bawah laut Wakatobi.


Review 5


Berbagai atraksi wisata menarik ditawarkan di kota kendari, baik di sepanjang laut maupun daratannya

Makhmudin


Kendari di Sulawesi Tenggara terkenal dengan hutan alami perkebunan yang luas dimana kayu jati dan kayu ulin banyak dihasilkan

Adnan Yollanda


Saya belum pernah pergi ke kendari..tapi sepertinya kota kendari adalah kota yang indah dan penduduk nya ramah ya..

yuliana


Kendari ternyata juga punya kain tenun yang siap untuk kamu jadikan oleh-oleh. Pasalnya, tidak semua tempat di Indonesia yang memiliki kain tenun. Masing-masing kain tenun di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, begitu pula dengan kain tenun khas Kendari. Ada beragam motif dan warna yang menarik yang merupakan perlambang dari tiap-tiap suku di Sulawesi Tenggara seperti Buton, Tolaki, serta Muna.

Rachmatulla


Kendari merupakan salah satu kota terbesar di Sulawesi, menyajiakan wisata petualang dan ekowisata seperti hutan alam dan perkebunan.

Ria Restyowati