Batusangkar yang Bersahaya, Keindahan yang Melenakan

Kota kecil di Kabupaten Tanah Datar ini terletak di dataran tinggi yang berudara sejuk. Rumah-rumah adat beratap runcing, kampung-kampung yang dalam kitab adat Minangkabau disebut sebagai daerah asal nenek moyang Orang Minangkabau, berjejeran di kaki Gunung Merapi.

Batusangkar, sebuah kota kecil di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat yang menyimpan destinasi alam dan budaya yang beragam. Daerah ini dapat ditempuh dengan tiga jam berkendara dari Kota Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat.

Banyak jalan menuju Batusangkar, salah satunya melewati Danau Singkarak. Dari Kota Padang, kendaraan yang kita tumpangi akan melintas hutan yang rindang hingga ke Danau Singkarak. Jalan berliku di pinggir danau akan melenakan mata melihat hamparan danau selauas mata memandang dan perbukitan berlapis hijau mengelilinginya. Sebelum menikung ke Batusangkar, Sobat Pesona bisa menyinggahi warung-warung di pinggir danau, menyantap ikan bilih, yang merupakan ikan endemik Danau Singkarah yang renyah.


Eksotisme Pacu Jawi dan Kopi Kawa
Selain menjadi ikon wisata budaya, kota kecil Batusangkar di Kabupaten Tanah Datar ini terletak di dataran tinggi yang berudara sejuk. Rumah-rumah adat beratap runcing, kampung-kampung yang dalam kitab adat Minangkabau disebut sebagai daerah asal nenek moyang Orang Minangkabau, berjejeran di kaki Gunung Merapi.

Persawahan yang berjenjang, sungai-sungai yang mengalir tenang. Bila musim panen tiba, ketika padi telah dituai dan dibawa ke lumbung, sawah-sawah yang digenangi air itu digunakan untuk Pacu Jawi. Pacu Jawi merupakan sebuah pesta masyarakat di mana laki-laki mengendarai sapi di tengah lintasan sawah penuh air dan lumpur.

Senja hari, hawa sejuk akan berubah menjadi dingin. Namun, tidak perlu kuatir, banyak penganan tradisional bisa mengusir dingin. Minikmati pisang goreng dengan kopi hangat. Uniknya, di warung-warung yang bertebaran di Batusangkar, disediakan kopi kawa. 

Kopi kawa bukanlah minuman yang diracik dari biji kopi, melainkan dari daunnya. Daun kopi diperam, dikeringkan, kemudian direbus. Air rebusannya inilah yang disebut daun kawa atau kopi kawa. Menurut masyarakat setempat, masyarakat dataran tinggi ini telah minum air rebusan daun kopi sejak masa kolonial, ketika biji kopi diangkut untuk memenuhi kapal-kapal dagang Belanda, yang tersisa bagi petani hanyalah daun kopi.

Berwisata ke Batusangkar, kita tidak semata dimanjakan oleh alam dan kuliner, namun juga dengan kehidupan masyarakat di dataran tinggi Minangkabau yang bersahaja. Indah dan damai...


Foto: Fatris MF


Review 0