Geliat Pariwisata di Kota Seribu Sungai Banjarmasin

Sungai-sungai di Banjarmasin dipengaruhi oleh pasang-surut air laut jawa, sehingga berpengaruh pada sistem drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap budaya dan kehidupan masyarakat yang memanfaatkannya sebagai salah satu prasarana transportasi, perikanan, perdagangan, bahkan pariwisata.

Sebagai kota yang dahulu pernah menjadi ibukota provinsi Kalimantan pada masa awal kemerdekaan, kota Banjarmasin tidaklah luas seperti besarnya pulau Kalimantan. Sebagai ibukota provinsi, kota Banjarmasin menjadi ibukota terkecil di Indonesia dengan luas 98,46 Km persegi yang terbentuk dari delta atau kepulauan yang terdiri dari 25 pulau kecil yang dipisahkan oleh sungai-sungai. Wilayah kota Banjarmasin tidak hanya dipenuhi jaringan sungai-sungai kecil, namun juga berbatasan dengan sungai besar, yaitu sungai Barito di sebelah baratnya, dan dibelah oleh sungai Martapura di tengahnya, membuat kota ini disebut sebagai Kota Seribu Sungai.

Berjarak sekitar 28 Km dari bandara Syamsudin Noor dan dapat ditempuh dengan mobil selama 45-50 menit, Kota Banjarmasin dapat dikatakan menjadi pintu gerbang pariwisata Kalimantan Selatan. Dengan banyaknya hotel dan penginapan di kota Banjarmasin, mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang 4, memberikan ragam pilihan bagi wisatawan untuk memilih Banjarmasin sebagai tempat bermalam selama di Kalimantan Selatan.

Terdapat banyak wisata kuliner dan pusat oleh-oleh di kota Banjarmasin yang siap melayani wisatawan yang penasaran dengan keunikan kota Banjarmasin. Luas kota yang tidak terlalu besar menjadikan waktu untuk mendatangi destinasi-destinasi wisata di kota Banjarmasin relatif singkat. Bahkan banyak wisatawan yang lebih memilih berjalan kaki atau menggunakan jasa operator ojek daring yang sudah cukup lengkap.

Sejak jaman dahulu aktivitas masyarakat kota Banjarmasin berorientasi ke sungai yang menjadi magnet ekonomi dan membentuk kampung-kampung tua di Banjarmasin yang terletak di sepanjang daerah aliran sungai. Perkembangan pembangunan kota Banjarmasin saat ini pun mencoba untuk kembali berorientasi dan memperhatikan sungai-sungai sebagai prioritas dalam pembangunan. Revitalisasi dan normalisasi sungai mulai dilakukan untuk mengembalikan budaya masyarakat sungai dan pengembangan pariwisata berbasis sungai.

Kampung-kampung di Banjarmasin juga mulai berbenah dalam mengembangkan pariwisata kota. Munculnya Kelompok Sadar Wisata di beberapa kampung semakin menambah semarak potensi wisata kota Banjarmasin, seperti Kampung Ketupat di Sungai Baru, Kampung Sasirangan di Sungai Jingah dan Seberang Mesjid, dan sebagainya.

Tidak ketinggalan pembangunan kawasan Siring di pinggir sungai Martapura yang menjadi riverside walk sebagai “etalase” wisata sungai di Banjarmasin. Letak Siring yang berada di tengah-tengah kota Banjarmasin membuatnya sangat mudah untuk diakses dari segala arah dan menjadi pusat kegiatan warga kota Banjarmasin. Di kawasan siring ini kita bisa melihat patung bekantan (Nasalis Larvatus) yang menjadi maskot Kalimantan Selatan, dan juga dapat menyusuri kota Banjarmasin lewat sungai-sungainya dengan menaiki perahu atau kelotok dengan tarif yang disesuaikan dengan rute yang kita pilih. Tidak hanya itu, bila kita berkunjung ke kawasan Siring pada akhir minggu, kita akan menemui Pasar Terapung yang menjual hasil alam khas Kalimantan Selatan seperti buah-buahan dan sayur-mayur lokal.

Seperti juga kebanyakan kota-kota utama lainnya, di Banjarmasin juga terdapat gerai-gerai mini market maupun mall yang menyediakan aneka keperluan warganya. Namun selama anda di Banjarmasin bawalah tas belanja atau kantong belanja sendiri, karena sejak tahun 2015 Pemerintah kota Banjarmasin melarang penyediaan tas/kantong plastik di seluruh gerai mini market maupun supermarket, bahkan di dalam mall sekalipun. Hal ini telah berhasil mengurangi jumlah sampah kantong plastik secara signifikan.


Foto: Acid Ridha


Review 0