Temukan Savana Terindah di Bumi Flores

Flores, salah satu pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diidentikkan dengan gersang, savana, dan panas. Dari udara, daratannya coklat meliuk-liuk di keluasan laut biru. Pulau ini indah.

Rangkaian bukit savana berlatar langit biru jernih. Rumput yang menyelimuti bukit berwarna coklat kala musim kemarau, dan berganti hijau begitu masuk musim hujan. Awan seakan berjarak hanya sedepa dari kepala. Lompat sedikit maka akan teraih.

Ruteng, kota di pegunungan Flores, dinginnya menggigit. Pagi di Ruteng adalah pagi yang malas karena ingin tetap duduk di teras menghadap jalan, memandangi anak-anak berjalan kaki berangkat sekolah. Berbincang ditemani secangkir kopi dan roti keras (hard bread) yang sebelum dimakan, dicelupkan dulu ke kopi manis legit hangat ini.

Jalan raya Trans Flores selebar 5 meter beraspal mulus, membentang dari Labuan Bajo hingga Larantuka, meliuk-liuk melintasi pantai dan bukit. Pohon randu dan pohon asam tumbuh liar di sepanjang tepi jalan. Pengendara harus selalu waspada oleh interupsi ternak yang sekonyong-konyong melintas di tengah jalan. Dari anak anjing yang lincah sampai sapi yang berjalan lamban usai merumput di tepi jalan. Juga babi dan kambing berkalung kayu melintang 1 meter di leher, sepertinya tak terganggu dengan kalung antiknya itu.

Rumah-rumah berdinding kayu dan bambu, beratap seng. Hampir tak ada rumah yang beratap genting tanah liat. Genting tanah liat tak diproduksi di sini, dan harus didatangkan dari Bali. Berat di ongkos. Jadi jika ada rumah beratap genting, pemiliknya pastilah sangat berkelonggaran secara ekonomi.

Lalu lintas di kota-kotanya tidak padat. Mobil angkot sama banyaknya dengan bus kayu. Jika angkot hanya mengangkut orang dan sedikit barang, bus kayu bahkan mengangkut babi atau kambing, dijejalkan bersama manusia. Bus kayu adalah truk kayu seukuran metromini yang dilengkapi papan-papan melintang untuk tempat duduk. Berbeda dengan angkot yang punya jam operasional, bus kayu beroperasi 24 jam. Kendaraan umum paling fleksibel di Flores.

Kehidupan di Flores adalah kehidupan rohani Katholik, yang dibuka para misionaris sejak abad ke-16 dan terpelihara hingga sekarang. Gereja-gereja indah sangat mudah dijumpai baru maupun lama, kecil dan besar. Di dekat gereja, berdiri sekolah seminari berikut asramanya. Halaman gereja yang luas jadi tempat anak-anak bermain di luar jam misa.


Rumah Pengasingan Bung Karno
Flores juga sedikit disebut-sebut dalam sejarah Indonesia yang cenderung Jawa sentris. Sulit menemukan cerita tentang pemberontakan warga Flores terhadap penjajah. Alamnya yang keras membuat tak banyak yang bisa ditanam untuk didagangkan bangsa Eropa di pasar dunia, kecuali kopi. Kopi Flores yang bercitarasa kuat punya peminat tersendiri di kalangan pencinta kopi.

Ende, kota di Flores, jadi tempat pembuangan Sukarno dari tahun 1934 hingga 1938, membuat anak sekolah se-Indonesia mengenal nama kota ini, meski tak menjamin mereka bisa menunjukkan letaknya di peta. Inilah persinggungan paling banyak antara Flores dengan sejarah yang umumnya dikenal masyarakat.

Bung Karno; istrinya, Ibu Inggit; dan putri angkat mereka, Ratna Djuami meninggalkan Bandung untuk menjalani pembuangan selama empat tahun di kota pantai Ende, tinggal di rumah sewaan milik Haji Abdul Amburawuh. Di sini mereka beroleh satu anak angkat lagi, Kartika.

Selama di Ende, Bung Karno menghabiskan waktu dengan membaca buku agama kiriman Ahmad Hassan di Bandung sambil berdiskusi secara tertulis dengan tokoh PERSIS itu. Dia juga mendirikan kelompok sandiwara bernama Toneel Kelimutu, berperan rangkap sebagai sutradara, penulis skenario, dan penata panggung. Rumah pembuangan Bung Karno ini jadi tempat latihan, sedangkan tempat pertunjukan meminjam gedung gereja. Ibu Inggit dan Ratna Djuami jadi penata rias dan penata kostum.

Rumah pengasingan di Flores masih ada dan terawat sampai sekarang. Rumah lama berjendela banyak. Halaman depannya ditanami tanaman rendah, sumur lama masih ada di halaman belakang. Menghadap teras belakang adalah Ruang Semadi berukuran 3 x 3 meter. Rumah yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya ini dapat dikunjungi kapan saja, dengan terlebih dulu menemui pemegang kunci yang bertempat tinggal tak jauh dari situ.


Foto: Silvia Galikano


Review 0