Bertemu Panglima Perang Berusia 280 Tahun di Wamena

Wamena berasal dari bahasa suku Dani, Wa dan Mena yang artinya adalah Babi Jinak.

Papua selalu istimewa dengan keindahan bentang alam yang tiada duanya. Tujuan wisata di daratan ataupun laut akan selalu memuaskan dan tak akan membuat Sobat Pesona kecewa. Wamena adalah salah satunya. Ibukota Kabupaten Jayawijaya ini menawarkan pemandangan dan juga budaya.

Kota Wamena terletak di Lembah Baliem, dialiri oleh Sungai Baliem dan diapit Pegunungan Jayawijaya. Kota ini berada di ketinggian 1800 mdpl. Nama Wamena berasal dari bahasa suku Dani, yang sesungguhnya merupakan dua kata, Wa dan Mena yang artinya adalah Babi Jinak.

Sekalipun berada di pegunungan, di Wamena sudah ada bandar udara sehingga Sobat Pesona tak akan kesulitan mengakses kota ini saat berlibur. Ada banyak pilihan tujuan wisata jika sudah sampai di Wamena, namun yang paling terkenal dan selalu menarik adalah Lembah Baliem.

Ada beberapa suku yang tinggal di lembah ini dengan suku Dani menjadi mayoritas. Suku Dani terkenal dengan rumah adat mereka yang bentuknya seperti lingkaran dan dinamakan Honai.

Selain keindahan alamnya yang luar biasa, ada sebuah acara yang selalu berhasil menyedot banyak wisatawan, lokal maupun manca negara. Festival Lembah Baliem secara rutin setiap awal Agustus diadakan di sini. Acara ini juga merupakan festival tertua di Indonesia yang merupakan kerja sama antara pemerintah daerah dan kementrian Pariwisata. Dalam festival ini disajikan beragam ritual budaya, seperti tari perang dan bakar batu, sebuah cara memasak tradisional khas Papua.

Di sini pula Sobat Pesona bisa menjumpai mumi. Ada enam mumi yang proses pengawetannya dilakukan secara tradisional. Pembuatan mumi itu dilakukan dengan cara diasap dan dibaluri lemak babi. Proses pengasapannya memutuhkan waktu hingga 200 hari di dalam sebuah honai.

Dari enam mumi itu ada satu yang paling terkenal yakni mumi Wim Motok Mabel. Lokasinya di distrik Kerulu. Mumi Wim Motok Mabel dipercaya telah berusia 280 tahun. Wim Motok Mabel adalah panglima perang yang sangat disegani pada masanya, dan karena itulah diawetkan dan disakralkan oleh masyarakat setempat.


Foto: Jaka Thariq


Review 0