Banda Neira, dari Rempah, Sejarah, Sampai Penjajah

Siapa yang tak tahu Banda Neira. Sebbagai sebuah pulau yang menyimpan sejuta keindahan dan kekayaan alam, tak ayal pulau ini sempat jadi rebutan Bangsa Eropa. Bahkan, Pulau Kecil ini punya julukan “The Spice Land” karena sudah tersohor menghasilkan komoditas rempah-rempah dunia, yaitu pala.

Banda Neira sejak dulu sudah jadi perebutan kekuasaan oleh Bangsa Eropa karena menjadi satu-satunya tempat tumbuh pohon pala. Biji buah pala ini dijadikan rempah yang konon katanya harga di pasaran bersaing dengan logam mulia emas. Eropa, Spanyol Portugis, Inggris, dan Belanda berlomba menguasai Banda dan penduduk kepulauan untuk mendapatkan si emas hitam ini.

Berikut ini fakta yang bisa dirangkum seputar sejarah dan dinamika pala di Pulau Banda.

Menjadi medan pertempuran selama berabad-abad

Portugis adalah orang pertama yang menemukan kepulauan Banda. Sementara itu, Belanda datang untuk menguasai kepulauan namun keberadaan mereka tak disukai oleh penduduk lokal. Inggris pun datang untuk memanfaatkan situasi dengan topeng membantu penduduk melawan Belanda. Akibatnya perang pun terjadi berabad-abad.


Perkebunan Pala di Banda Neira dimonopoli oleh Belanda
Cara yang dilakukan Belanda untuk menguasai Banda adalah dengan menawarkan penduduk bermodal untuk membeli lahan produktif yang tersedia. Para budak dipekerjakan dan pihak Belanda mengambil untuk cukup banyak. Mereka membeli pala dengan harga 2,6 stuvier dan menjual 150 stuvier per kilogram.


Penukaran Pulau Run dengan New Amsterdam
Pulau Run adalah salah satu rangkaian Banda Neira dan diberikan oleh Saudagar Banda, Datuk Putih, kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris. Untuk mengamankan monopoli pada di Banda Neira, Belanda rela menukarkan pulau jajahannya bernama New Amsterdam untuk memperoleh Pulau Run. Hal ini tertuang dalam naskah perjanjian Breda pada tahun 1667.


Hatta dan Sjahrir pernah diasingkan di Banda Neira dan mendirikan sekolah
Pada saat itu, Banda Neira hanya memiliki sekolah Belanda tapi hanya untuk orang-orang yang mampu. Pada masa pembuangan di pulau ini, mereka pun mendirikan sekolah bagi anak yang tidak mampu. Sekolah ini bernama sekolah sore dan tidak sedikit pun dipungut biaya.


Review 0