Aceh Tengah, Surga Wisata Alam di Atas Awan

Bentang alam Aceh Tengah yang didominasi jalur-jalur menanjak dan berkelok menjadi landasan nama ibu kotanya, Takengon diambil dari kata "tikungan". Jalan yang menghubungkan kota-kota di Gayo dan Aceh Tengah melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah.

Kabupaten ini terkenal karena wisata dan hasil kopinya yang mendunia, Aceh Tengah di Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten Aceh Tengah memang berupa perbukitan, berada di salah satu bagian punggungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang pulau Sumatra, dengan ibu kota Takengon. Takengon merupakan kota kecil yang sejuk dan indah di pinggiran Danau Lut Tawar, membuat kota tampak begitu eksotik ditambah dengan perbukitan hijau yang mengelilinginya.

Kabupaten Aceh Tengah dan kota Takengon, sebagian besar berada di dataran dengan ketinggian berkisar 1200 m di atas permukaan laut. Hal ini membuat hawa disini terasa amat sejuk dan menyegarkan. Karena keindahan alamnya yang masih asri, Aceh Tengah menjadi salah satu destinasi wisata dengan atraksi utama alam.

Bentang alam Aceh Tengah yang didominasi jalur-jalur menanjak dan berkelok menjadi landasan nama ibu kotanya, Takengon diambil dari kata "tikungan". Jalan yang menghubungkan kota-kota di Gayo dan Aceh Tengah melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu Gayo merupakan kawasan yang terpencil sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini.

Mayoritas masyarakat Aceh Tengah berasal dari suku Aceh sebagai penduduk aslinya, namun ada juga suku suku lain yang mendiami wilayah ini seperti Jawa, Minang sertaTionghoa juga ada. Kesibukan masyarakat pada umumnya afalah bercocok tanam, nelayan dan berdagang di pasar.

Aceh Tengah terkenal akan hasil kopinya, Kopi Aceh Gayo yang punya kualitas sangat baik. Kabupaten Aceh Tengah menghasilkan salah satu jenis kopi arabika terbaik di dunia, kawasan ini memiliki luas lahan kebun kopi lebih dari 48 ribu hektar. Agro wisata kopi merupakan salah destinasi wisata menarik di kawasan ini.

Wisata budayanya juga tak kalah memikat. Masyarakat Aceh Tengah memiliki tradisi tahunan, pada Perayaan Proklamasi Indonesia, yaitu pacu kuda tradisional. Pacu kude Gayo, diikuti oleh joki-joki muda berumur antara 10-16 tahun dan tidak menggunakan sadel. Sejak 2011, Pacu kude diselenggarakan 2 kali dalam setahun, di bulan Agustus pada saat perayaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan bulan Februari untuk memperingati hari ulang tahun kota Takengon yang jatuh pada tanggal 17 Februari.


Foto : Chalid Nasution


Review 0