Jember, Kota Religi Dengan Ikon Fashion dan Arsitektur Masjid

Kota religius dengan masjid ikonik yang dibangun di abad 18. Kini berkibar sebagai penghasil tembakau kelas dunia, karnaval fashion terbesar di Indonesia hingga pantai-pantai cantik.

Dunia mengenal nama Jember, sebuah kota di Jawa Timur sebagai daerah yang kental dengan fashionnya. Satu-satunya event pariwisata terbesar yang digelar setiap tahunnya adalah Jember Fashion Carnival. Event akbar ini, menampilkan karnaval fashion busana di jalan-jalan protokol kota Jember. Tidak main-main, busana yang ditampilkan merupakan hasil kreativitas seniman yang ada di Indonesia.

JFC, begitu singkatannya, disaksikan raturan ribu penonton di kanan kiri jalan. Karnaval ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Jember. Kawasan yang juga dijuluki kota suwar suwir, kue khas kota ini, ikut terkenal sebagai penghasil tembakau yang terbaik di dunia.


Tembakau, Pantai Hingga Masjid Bersejarah
Sejarah tembakau Jember, ada 2 jenis yang ditanam. Yaitu Besuki Voor-Oogst (BVO), ditanam pada saat musim hujan dan panen awal musim kemarau. Kedua adalah tembakau Besuki Na-Oogst (BNO) yang ditanam saat musim kemarau dan panen awal musim hujan. Kedua tembakau ini sama-sama memiliki nilai tinggi di dunia tembakau.

Di urusan tempat nongkrong, Jember memiliki pula kafe kopi yang berada di kolong jembatan. Kafe ini pernah dikunjungi artis Rio Dewanto untuk inspirasi bisnis kafe miliknya termasuk fim Filosofi Kopi. Memanfaatkan ruang publik di bawah kolong jembatan dengan desain dan pencahayaan yang simple.

Di wisata pantainya, lebih seru lagi. Jember memiliki destinasi yang sungguh indah. Mulai Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan), Pantai Watu Ulo, Pantai Bandealit, Pantai Puger, Pantai Paseban, Pantai Payangan, Pantai Rowo Cangak. Tapi di balik keindahan alamnya, Jember juga memiliki akulturasi budaya yang cukup tinggi.

Jember memiliki masjid atau lokasi wisata religi dengan arsitektur maupun historis menarik. Seperti masjid Jami’Al Baitul Amien yang terletak di jantung kota. Sebagai ikon kota Jember, masjid Jami’ Al Baitul Amien memiliki dua bangunan masjid yang dipisahkan oleh jalan protokol. Masjid lama ini dibangun sejak zaman kolonial Belanda tahun 1894.

Luasnya 2.760 meter persegi, pernah direnovasi tahun 1939. Masjid tersebut menyimpan banyak makna pada arsitektur bangunannya. Selain masjid ini, ada pula masjid Raudatul Muchlisin. Masjid yang berada di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates ini juga menarik perhatian pengunjung luar kota. Mirip dengan masjid tiban yang terkenal di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Kemegahan dan kesan futuristik inilah yang membuat setiap harinya, didatangi ratusan pengunjung. Kalau hari Sabtu dan Minggu, pengunjung masjid yang bernuansa istana di Turki itu, lebih besar lagi.  Tidak sedikit yang memanfaatkan kunjungannya untuk berfoto memanfaatkan ornamen yang ada di dalamnya. Di depan pintu masuk masjid, terdapat air mancur berhiaskan lampu warna–warni.

Saat malam tiba, masjid ini semakin menunjukkan pesonanya. Bahkan menjadi tempat kongkow ideal di setiap akhir pekan. Terakhir, kekhasan budayanya juga diperlihatkan di bangunan masjid Cheng Ho. Berdiri di Jalan Hayam Wuruk, tepatnya berada di belakang kantor Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates. Setiap harinya, tak kurang ratusan pengunjung melakukan ibadah dan berswafoto di depan masjid tersebut.


Foto : Nunus Rachmantyo


Review 0