Bajawa, Kota Penuh Kedamaian di Pulau Flores

Dengan letaknya yang dikelilingi bukit dan berada di lereng Gunung Inerie, Bajawa menawarkan udara bersih dan kesejukan.

Bajawa berasal dari kata Bhajawa, nama salah satu nua (rumah atau kampung besar) dari tujuh kampung yang berada di tepi barat Kota Bajawa.

Kata “bha” mempunyai makna piring, dan “djawa” berarti Pulau Jawa atau perdamaian. Bhajawa bisa berarti piring perdamaian, dan bisa juga berarti piring atau pinggan dari Jawa.

Kota ini merupakan Ibukota Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dan terletak di Pulau Flores. Bajawa mempunyai penduduk sekitar 45.000 jiwa, dengan wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan keindahan lansekap yang menawan.

Kota Bajawa dirintis oleh penjajah Belanda pada 1907 di bawah pimpinan Kapiten Christoffel. Setelah menguasai Larantuka dan Sikka, Belanda kemudian mengadakan aksi militer untuk menguasai Ende, Manggarai, dan Ngada.

Pada waktu itu, pemerintahan Hindia Belanda mencoba menerapkan bentuk pemerintahan baru yang belum pernah dikenal oleh masyarakat Flores. Mereka mengarahkan suku-suku agar dapat disatukan dari mana pun asalnya.

Udara di kota ini cukup sejuk karena dikelilingi bukit dan terletak di lereng Gunung Inerie. Bajawa sendiri dihubungkan oleh jaringan jalan arteri dari kawasan paling timur Flores, yaitu Larantuka, dan melewati Kota Bajawa hingga ke bagian Flores Barat, yaitu Labuan Bajo.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengenal dan menjelajahi Kota Bajawa. Tak jauh dari jalan utama, jalan Soekarno-Hatta, terdapat Pasar Bajawa yang sederhana tetapi pasar ini termasuk di antara pasar terbersih di Indonesia Timur.

Yang paling menarik lagi adalah pasar ini tidak mengutamakan komoditas atau barang yang diperjualbelikan, melainkan interaksi pembeli dan penjual yang senang berbincang-bincang dengan keramahan khas Bajawa.

Ada juga Dusun Benadan Wogo, desa tradisional yang masih kental akan adat dan istiadat mereka hingga sekarang.

Selain itu, sekitar 16 km dari pusat kota terdapat jajaran rumah-rumah tradisional dengan formasi batu-batu pemujaan, yang masih mempertahankan kemegahan tradisinya hingga sekarang. Jika ingin melihat kekayaan budaya Ngada seutuhnya bisa berkunjung ke Desa Gurusina.

Di kota ini juga terdapat acara tahunan yang merupakan acara tahun baru bagi suku etnis Ngada yang disebut Reba. Acara ini melibatkan berbagai desa tradisional dan dilangsungkan dengan penuh sukacita tradisi Ngada.

Sebagai kota yang berhawa sejuk, Bajawa sering digunakan sebagai tempat singgah para pengunjung yang ingin berlibur, sekaligus tempat transit dan bermalam bagi pengunjung yang ingin bepergian ke objek wisata seperti Kampung Bena dan Riung.

Foto: Silvia Winda


Review 0