Sentani, Kedamaian Kota Kecil di Tepi Danau

Terletak 36 Km ke arah barat dari Jayapura, suasana kota Sentani jauh dari hingar bingar suara kendaraan maupun keramaian. Kota ini begitu tenang, sejuk dan nyaman, cocok untuk Sobat Pesona yang menginginkan liburan ke daerah yang damai dan tenang.

Dengan kepadatan 198,22 jiwa/km2, kota Sentani menjadi pusat administratif kabupaten dengan sebutan Bumi Khena Mbay Umbai. Luas kota kecil ini hanya 225,90 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak  47,514 jiwa di tahun 2013. Dibandingkan dengan kota lain di Jayapura,  jumlah penduduk paling banyak terkonsentrasi di Distrik Sentani, hal ini disebabkan Distrik Sentani merupakan ibukota kabupaten, sehingga secara otomatis memiliki fasilitas yang sudah cukup lengkap.


Petani dan Nelayan Danau
Masyarakat asli Sentani mencukupi kebutuhan mereka dengan mencari ikan, kerang (kheka), dan siput (fele). Mereka juga menanam umbi-umbian, seperti singkong atau ketela pohon (kasbi), keladi, dan ubi jalar, serta pisang dan sayuran. Hutan sagu pun terbentang luas, tapi bukan hasil budi daya, melainkan pemberian Sang Pencipta. Ikan-ikan di Danau Sentani tidak pernah dikembangbiakkan, tapi tidak pernah habis meskipun jutaan ekor diambil setiap hari.

Suku Sentani merupakan suku yang berdiam di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura Papua, Provinsi Papua. Tak hanya didiami oleh suku Sentani, kota Sentani juga didiami oleh banyak suku yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan setiap kampung memiliki suku tersendiri. Dari Kampung Yoka, yang paling ujung, Waena–tempat menuntut ilmu–, Sebeaiburu, Puay, Ayapo, Asei Kecil dan Asei Besar, Netar, Ifar Besar, Ifar Kecil (Ifale), Hobong, Yobhe, Yabuai, Putali, Abar, Atamali, Yoboi, Simporo, Babrongko, Dondai, Kwadeware, Yakonde, Sosiri, hingga Doyo Empat Kampung.

Tak hanya itu, kota ini juga mempunyai ondofolo (kepala adat) sendiri-sendiri. Setiap kose (Kepala Suku) pun memiliki nama suku sendiri-sendiri. Dalam satu kampung biasanya ada satu ondofolo dan lima kose. Artinya, satu kampung bisa dihuni minimal enam suku. Jadi kalau ada 24 kampung, ada 144 suku yang ada di wilayah Sentani.


Destinasi wisata
Sentani menawarkan berbagai tempat-tempat wisata yang dapat dikunjungi di mulai dari wisata alam hingga wisata budaya, seperti Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua. Hebatnya lagi, ada sekitar 21 pulau kecil yang terserak di sekeliling danau ini. Selain itu ada pula Pantai Hamadi, Pantai Dok II, Museum Loka Budaya, Tugu Jendral Douglas Mac Arthur, Monumen Pendaratan Sekutu, Pantai Base G, Pantai Sarmi dan masih banyak lagi tempat wisata yang wajib dikunjungi.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Sentani adalah Festival Budaya Danau Sentani. Festival ini menawarkan keindahan budaya khas Sentani seperti tarian Kikaro, lagu-lagu daerah yang di perdengarkan saat festival berlangsung seperti Arowai Bunuh Bunuh Eh…, Aye Siakha dan masih banyak lagi yang dapat dinikmati dalam festival ini.


Budaya
Sentani merupakan kota kecil dengan keanekaragaman budaya, mulai dari tari-tarian, nyanyian hingga makanan khas. Beberapa contoh seni budaya yang dapat ditemukan di Sentani diantaranya tarian Kikaro, Lagu Arowai Bunuh Bunuh Eh…,  dan Lagu Waisabro. Sementara untuk kuliner, ada Papeda, makanan khas Papua yang terbuat dari bahan dasar sagu, dan udang selingkuh.

Salah satu rumah adat yang ada di Sentani terletak di Pulau Asei, pulau kecil yang berada di tengah Danau Sentani. Rumah adat tersebut bernama Walofo Mauw, sebuah rumah adat berbentuk kerucut yang digunakan sebagai media pendidikan bagi anak dan remaja, khususnya laki-laki.


Review 0