Linggarjati, Kota Kecil Saksi Sejarah Islam dan Kolonial

Linggajati biasa dieja dengan Linggarjati, adalah desa di kecamatan Cilimus, Kuningan di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan. Kawasan bersejarah, tempat dilangsungkan Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda pada 1946.

Linggajati di kecamatan Cilimus ini ternyata tidak hanya sebagai tempat dilangsungkannya perundingan antara Indonesia dan Belanda, tetapi konon juga terkait dengan kisah perjalanan Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Beberapa pendapat dan arti kata "Linggajati" dari para wali diantaranya menurut Pendapat Sunan Kalijaga, kawasan ini disebut "Linggajati" karena merupakan tempat linggih (lingga) Sunan Gunung Jati.

Menurut Sunan Bonang, “Lingajati” diartikan sebelum Sunan Gunung Jati sampai ke puncak Gunung Gede, dia linggar (berangkat) meninggalkan tempat setelah beristirahat dan bermusyawarah tanpa mengendarai kendaraan, melainkan memakai ilmu sejati.

Pendapat Sunan Kudus, nama "Linggajati" berasal dari kata nalingakeun ilmu sejati, karena di tempat inilah para wali songo bermusyawarah dan menjaga rahasia ilmu sejati agar tidak diketahui oleh orang banyak. Dan, pendapat Syekh Maulana Maghribi, desa itu dinamai "Linggajati" yang berarti tempat penyiaran ilmu sejati.

Letak Geografis dan Demografi

Desa Linggajati terletak pada ketinggian 400 meter dari permukaan air laut. Desa ini mudah dijangkau, baik dari Kota Cirebon maupun Kota Kuningan. Jarak tempuh dari Kota Cirebon  sekitar 25 km dan jika dari Kota Kuningan sekitar 17 km. Desa ini sebelah selatan berbatasan dengan Desa Linggarmekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Linggarindah dan di sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai.

Salah satu gedung yang berada di Desa Linggajati pernah menjadi tempat perundingan pertama antara Republik Indonesia dengan Belanda pada  11-13 November 1946. Dalam perundingan itu, Pemerintah RI diwakili Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili oleh Dr. Van Boer. Dan pihak penengah adalah Lord Killearn, wakil Kerajaan Inggris. Perundingan yang menghasilkan naskah perjanjian Linggajati terdiri dari 17 pasal, yang selanjutnya ditandatangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1945.

Peristiwa perundingan yang berlangsung tiga hari itu merupakan satu mata rantai sejarah yang mampu mengangkat nama sebuah bangunan mungil di desa terpencil, Linggajati menjadi terkenal di seluruh Nusantara, bahkan di pelbagai penjuru dunia. Bangunan itu kemudian dipugar oleh pemerintah tahun 1976 dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya dan sekaligus objek wisata sejarah.

Gedung Perundingan Linggajati saat ini berdiri di atas areal seluas sekitar 24.500 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.800 meter persegi. Ruangan dan segala perabotan yang ada di dalam gedung pada 1976, saat dipugar oleh pemerintah, dibuat sedemikian rupa agar data dan suasananya sedapat mungkin sama pada seperti 1946, sewaktu perundingan dilaksanakan.  Selain itu, di dalam gedung juga dilengkapi dengan gambar dan foto situasi saat perundingan berlangsung dan bahan-bahan informasi lain bagi pengunjung.

Objek Wisata Linggarjati

Tak hanya menjadi saksi sejarah Indonesia, di desa ini juga terdapat Taman Wisata Alam Linggarjati. Taman Wisata Alam yang terletak di Desa Linggarjati mempunyai luas 11,51 Ha. Kawasan ini merupakan bagian yang terpisah dari kawasan hutan lindung Gunung Ciremai. Keadaan lapangan secara keseluruhan menurun dari arah barat ke timur, dengan ketinggian tempat 55 meter di atas permukaan laut.

Berbagai jenis flora dan fauna, terdapat di kawasan ini di antaranya Bungur (Lagerstroemia sp), Pasang (Quercus sp), Kiara (Ficus sp), Lemo (Alstonia scholaris), Jamuju (Podocarpus imbricatus) dan Kiacret (Spathodea campulata). Jenis pohon-pohon ini tumbuh dengan baik dan banyak yang berefek pada kenyamanan  wisatawan karena menjadi lebih teduh.

Sedangkan jenis fauna yang ada di taman ini adalah jenis burung seperti Burung Pipit (Lonchura leucogastoides) dan Kepodang (Oriolus chinensis), jenis satwa lainnya terutama yang memiliki ukuran tubuh besar relatif tidak ada, karena sempitnya kawasan dan intensifnya pengelolaan kawasan.


Review 7


Linggajati merupakan peninggalan yang patut kita jaga agar tetap indah dan menarik wisatawan untuk berkunjung.

Mukti Dinata


Linggarjati sebuah kota yang masih asri dan banyak peninggalan sejarah

Febriwan Harefa


Wilayah yang masih asri dan penuh dengan kenangan

Mulya Adi Pradana


Saksi sejarah yang sangat dianjurkan untuk disinggahi jika pergi ke Kuningan, Jawa Barat. Disinilah saksi bagaimana orang-orang Kuningan banyak yang menetap di Jakarta dan membangun salah satu raksasa di kota metropolitan yg kita kenal dengan Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Di sini, tempatnya cukup sejuk karena dikelilingi oleh danau dan taman serta banyak flora dan fauna. Harga tiketnya pun terjangkau.

Bayu Aditya


Sejarah takkan terulang... Kita sebagai generasi muda penerua bangsa wajib menjunjung tinggi Bangsa Kita Budaya Kita.. Kalau bukan kita siapa lagi

Putri Mutiarasani