Sebelum Berlibur ke Pulau Komodo, Baca Ini Dulu Ya…

Salah satu tempat di Nusantara yang banyak mendapat pujian karena keindahannya adalah Taman Nasional Komodo atau Komodo National Park. Taman wisata ini berada di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Taman Komodo dibangun dengan tujuan untuk melindungi satwa komodo dan ekosistemnya. Selain itu, Taman Komodo juga  dipertahankan dan dimanfaatkan bagi tujuan penelitian sekaligus tujuan wisata.

Di tempat yang sudah menyandang predikat Cagar Biosfer dan Warisan Alam (UNESCO) ini diterapkan sistem zonasi untuk mengakomodir kepentingan nelayan, pelaku wisata, maupun pihak lainnya. Artinya, aktivitas wisata bisa dilakukan di zona-zona tertentu, sepanjang aktivitas tersebut tidak merusak dan mengancam kelestarian ekosistem satwa komodo dan spesies lainnya.

Saat berkunjung Taman Nasional Komodo, Sobat Pesona harus mengikuti beberapa aturan yang sudah ditetapkan. Ini dia aturan-aturan yang harus diikuti oleh para wisatawan.


1. Dilarang mengambil bagian tubuh flora dan fauna, serta bahan fisik termasuk pasir dan batu. Pelanggaran aturan ini bisa mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan Taman Nasional.

2. Tidak boleh membuang sampah di kawasan Taman Nasional Komodo. Wisatawan diwajibkan membawa pulang sampah yang dihasilkan selama berkunjung ke tempat wisata ini.

3. Dilarang memberi makan komodo maupun satwa lainnya, baik di darat maupun perairan. Memberi makan satwa liar bisa mengubah pola makan dan menurunkan kemampuan bertahan hidup satwa yang tergolong langka ini.

4. Penggunaan pesawat tanpa awak (drone) harus mendapatkan izin dari pihak terkait.

5. Dilarang berwisata jet ski di perairan Taman Nasional Komodo karena bisa mengganggu mobilitas satwa laut, dan berdampak negatif terhadap kemampuan satwa dalam merespons bahaya dan predator.

6. Dilarang kamping atau berkemah dan menyalakan api di kawasan Taman Nasional          Komodo. Hal ini didasari pertimbangan bahwa ekosistem di sana sangat rentan terjadi kebakaran, sekaligus untuk menghindari terjadinya konflik antara pengunjung dan satwa liar.


Foto: Prawin