Simak Sebelum Ziarah ke Makam Imogiri

Kalau kamu sedang berkunjung ke Yogyakarta, sempatkanlah untuk berwisata religi ke Kompleks Pemakaman Imogiri. Di sana, kamu bisa menjumpai banyak makam yang menjadi tempat beristirahatnya para tokoh penting di Kerajaan Mataram.

Pemakaman yang dibangun tahun 1632 itu sangatlah disakralkan oleh warga Yogyakarta. Setiap harinya, ada banyak peziarah yang sengaja datang untuk berkunjung sekaligus memohon doa agar permohonannya dikabulkan. Pengunjung juga bisa berwisata sambil merasakan nuansa keramat yang dihadirkan oleh pemakaman tersebut.

Harus Memakai Pakaian Tradisional
Kalau kompleks pemakaman lain memungkinkan siapa saja untuk masuk dan berziarah tanpa memandang pakaian yang dikenakan, pemakaman Imogiri justru punya aturan ketat. Di kompleks pemakaman yang ada di kawasan perbukitan itu, pengunjung wajib mengenakan pakaian tradisional Mataram. Hal ini dilakukan sebagai lambang kesetaraan.

Untuk perempuan, diwajibkan memakai kemben dan kain panjang. Seluruh pakaian bagian luar dan perhiasan juga wajib ditanggalkan. Sementara pengunjung pria wajib mengenakan kain panjang, baju peranakan berupa beskap warna hitam atau biru garis-garis, serta blangkon di kepala.

Alas kaki juga harus ditinggalkan, ya. Kamu bisa menitipkan pakaian, sepatu, dan pernak-pernik lain yang kamu kenakan di tempat penitipan yang tersedia di sana. Bagi kerabat atau putra-putri raja, ada aturannya sendiri. Yang pria memakai beskap tanpa keris sementara putri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk. Bagi putri yang masih kecil, diminta mengenakan sabuk wolo ukel konde.

Aturan Berfoto
Lupakan kebiasaan selfie saat berada di makam. Kamera dan alat perekam lain diharapkan untuk disimpan karena kompleks pemakaman sangat disakralkan dan merupakan tempat keramat bagi peziarah. Tentunya jika pengunjung asyik berfoto dan ber-selfie, akan terlihat tak menghormati tempat tersebut.

Perhatikan Jadwal, Tutup Selama Ramadhan
Kalau ingin berkunjung ke Pemakaman Imogiri, ada baiknya kamu memperhatikan jam operasionalnya terlebih dahulu. Sebab, pemakaman ini hanya buka tiga hari dalam seminggu, yaitu hari Senin, Jumat, dan Minggu. Di hari tersebut, makam terbuka mulai pukul 10 pagi hingga 1 siang.

Di hari khusus seperti tanggal 1 dan 8 Syawal, serta 10 Dzulhijah, makam juga dibuka dan bisa dikunjungi oleh para peziarah. Umumnya, makam akan menjadi sangat ramai menjelang bulan Ramadhan. Namun, makam akan ditutup selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan.

Meluruskan Niat dalam Berdoa dan Berziarah
Di kompleks pemakaman ini, para pengunjung bisa menikmati suasana tradisional sekaligus keramat yang menenangkan. Selain itu, pengunjung dipersilahkan untuk berziarah ke sejumlah makam tokoh-tokoh penting kerajaan yang disemayamkan di sana.

Biasanya, peziarah memanjatkan doa agar jiwa orang-orang yang disemayamkan di kompleks tersebut dapat tenang di alam kubur. Namun ada juga yang sengaja memanjatkan doa dan permohonan dengan harapan Sultan Agung dan tokoh penting lainnya dapat mengabulkannya. Padahal hal itu dilarang.

Para abdi dalem yang berjaga di makam biasanya menerangkan bahwa siapa saja boleh berdoa di makam tersebut. Namun ia menghimbau agar semua doa tetap ditujukan kepada Yang Maha Kuasa saja. Selain itu, pengunjung juga diharapkan tidak melakukan praktik pesugihan di pemakaman ini.