Sign In or Sign Up

  • Surga dari Utara Batavia

    slidebg1

Surga dari Utara Batavia

20 October 2017

Oleh: National Geographic Indonesia (Warsono)

 

Tempat berlabuh di Pulau Harapan sepi, begitu juga saat kita berkeliling ke pulau-pulau di utara Kepulauan Seribu. Diam sekali. Saat tinggal di Pulau Perak hanya ada dua dari kita di tenda, pulau ini nampaknya milik kita berdua. Namun, sulit saat kami menanyakan di mana makan siang di Hope Island kepada Pak Bahrun. Dia hanya menjawab, "Jika hari normal, tidak ada warung makan yang buka." Dia bahkan menawari makan siang di rumahnya.

 

Menurut Bahrun, suasananya berbeda pada hari Sabtu dan Minggu. "Banyak yang menjual makanan," katanya. Demikian pula yang dikatakan oleh KusnanBodong, pemilik homestay yang kita jalani sebelum kembali ke Jakarta. "Jika Sabtu dan Minggu di sini bisa sampai 1.500 orang," katanya. "Tempat itu sangat penuh dengan Integrated Park," tambahnya lagi.

 

Untuk kembali ke Jakarta kita harus pergi dari Pulau Kelapa untuk naik perahu motor. Kapal Milles bahwa kami kembali ke Jakarta pada hari Jumat, kemudian berangkat dari Jakarta ke Hope Island pada hari Sabtu dan Minggu, dan kembali lagi ke Hope Island pada hari Senin. Sementara di Pulau Kelapa, taksi perahu selalu ada setiap hari.

 

Pulau Kelapa terletak di sebelah barat Pulau Harapan. "Dulu, saat ini masih satu administrasi, kedua pulau ini misah. Kini, setelah menjadi desa yang berbeda, bahkan disatuin dengan jembatan ini," Bahrun menjelaskan, saat kami melintasi jembatan yang menghubungkan Pulau Harapan dan Pulau Kelapa.

 

Saat mendekati beberapa pulau pribadi, penjaga pulau biasanya tidak mengizinkan kita untuk berfoto seperti saat kita mampir di sebuah pulau milik seorang pejabat partai politik. "Tidak diizinkan untuk mengambil beberapa gambar, Dek Kalo mungkin ingin bermain, tapi di dermaga menulis," tegur penjaga pulau itu kepadaku, saat aku dan Bahrun meminta izin untuk memotret di pulau itu. "Kalau ada ngambil gambar yang tertangkap di pulau ini, saya akan dipecat," bisiknya kepada saya. Kami berjalan menuju dermaga dan bercakap-cakap.

 

Di dermaga, dia bercerita sedikit tentang kondisi kepariwisataan di Kepulauan Seribu. "Dulu, pernah menjadi turis yang ramai di sini. Tapi, mulailah waktu tenang krisis moneter di tahun 1998, dan ambruk pada tahun 2001," katanya. Sebelum melindungi pulau tersebut, ia menjaga sebuah pulau yang berfungsi sebagai resor. "Setelah itu, saya menyimpan vila di Bogor. Tapi kembali ke sini dan terus di pulau ini," dia menyelesaikan ceritanya, lalu minta izin pergi ke pulau itu untuk kembali bekerja.

Kami juga mengucapkan selamat tinggal untuk melanjutkan perjalanan ke pulau lain.

 

Yang lainnya ada di pulau pribadi kami menemukan hal yang sama saat meminta izin untuk memotret. "Jangan mengambil beberapa gambar disini, maka saya bisa dipecat jika tertangkap," kata penjaga pulau tersebut. "Itu di pulau-pulau yang sudah sedikit orang dipecat karena ada yang tertangkap ngambil gambar, terus dipajang di Internet," katanya lagi, menunjuk ke kepulauan seberang tempat kami berdiri. Akhirnya, kami hanya bermain-main di dermaga. Yunaidi sebenarnya suka bermain dengan dua anjing di pulau ini, sementara aku naik lagi ke kapal motor karena takut pada anjingnya.

 

Di salah satu pulau, penjaga diizinkan berfoto di sekitar dermaga sendirian. Dia mengatakan kepada saya, jika pemilik pulau saat ini telah berubah. "Dulu, pulau itu masih disewakan ke resor, tapi pemilik baru belum menyewakan," katanya. "Pemiliknya sekarang lebih galak, saya pernah dimarahi tanpa tanda pancing. Bahkan, dia lagi benerin bocor kapal," tambahnya lagi.

 

Sebenarnya, dia senang ada nelayan yang beristirahat atau memperbaiki perahu bocor di pulau tersebut, karena nelayan sering menyediakan ikan untuknya. Saat itu, saya melihat mereka membakar ikan.

 

Kami juga mengunjungi pulau-pulau lain, seperti Pulau Semut. Pulau semut adalah pulau kecil yang hanya memiliki sekitar satu hektar. Pulau ini telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Dermaga juga sudah rusak. Menurut informasi Bahrun, pulau ini telah ditinggalkan selama bertahun-tahun.

 

Saat melihat perairan dangkal pulau ini, Yudi berteriak "Wah, karang sudah jelek ya!" Pasirnya hampir menutupi karang, dan ada banyak bulu babi. Di dasar dermaga di bagian barat pulau itu, ada tiga bangunan yang sebelumnya dulunya digunakan sebagai kediaman penjaga rumah tinggal, dan sebuah garasi untuk kapal.

 

Tingkat dasar pulau ini sangat lembut karena ditutupi daun pohon cemara yang gugur. Di tengah pulau ada sebuah bangunan, yang nampaknya menjadi bangunan utama di pulau ini. Di depan bangunan ini ada dua ayunan, meriam kecil, dan replika tulang ikan yang cukup besar. Sebelum sampai di pantai, ada bangunan lagi yang merupakan dapur dan kamar mandi. Di bagian timur pulau itu, saya melihat hamparan pasir putih. Pasirnya seperti pulau yang menjulur lidahnya, panjangnya hampir 50 meter.

 

Pulau-pulau tak berpenghuni Yang lain adalah bahwa kita pergi ke Pulau Lumba-lumba, sebuah pulau kecil di sebelah tenggara pulau di seberang Sungai Besar, luasnya tidak sampai satu hektar. Dari perahu yang bersandar, terlihat beberapa kotak kardus bertebaran di pulau itu. "Jika hari Sabtu dan Minggu pulau itu ramai, ada yang menjual dengan baik. Kayu itu membuat barang dagangan," kata Bahrun. Pulau ini menjadi salah satu tujuan wisata paket di Pulau Harapan. Saat menginjak pasir putih di sekitar pulau rasanya terasa begitu halus dan padat, berbeda dengan pasir yang ada di pulau lain yang saya kunjungi tadi.

 

Di pulau ini, saya melihat kemahiran Yudi memanjat pohon. Dengan kamera, ia mampu memanjat pohon pinus hingga ketinggian tujuh meter agar bisa mendapatkan sudut foto di atas. Musim gugur bukanlah awal pendakian, tapi maju ke ujung batangnya menurun untuk memanfaatkan fleksibilitas batang pohon cemara yang digantung.

 

Bira Big Island, kita masuk ke pulau itu, hanya duduk di dermaga, melihat karang yang ada di pulau ini. Pulau penjaga melihat kami dan mendekati kami, tapi kemudian malah asyik mengobrol dengan Bahrun. Terumbu karang di bawah dermaga pulau ini masih bagus. Yudi kemudian bergegas ke peralatan snorkeling dan terjun ke air, sementara aku mengikuti di belakangnya.

 

Dorong kutub penggemar laut tumbuh (sea fans). Juga banyak lalu lintas kelompok ikan. Kami kemudian snorkeling di perairan dangkal pulau ini. Tapi, saya tidak terlalu tua untuk menikmati terumbu karang di perairan dangkal, tepat pada waktunya untuk melihat banyak ubur-ubur kecil, yang semula saya pikir sampah. Kemudian, saya kembali menikmati keindahan terumbu karang di bawah dermaga.

 

Dari pulau ini, saya melihat sebuah pulau kecil dengan pasir putihnya di barat laut. "Ini PulauKayuAnginBira," kata Bahrun. "Tapi jangan sampai ke sana, zona inti (Taman Nasional Kepulauan Seribu)," tambahnya lebih jauh.

Benar, PulauKayuAnginBira adalah salah satu zona inti di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Zona inti meliputi Bira Wind Wood Island, Pulau Belanda, dan bagian utara BiraPulauBesar, yang merupakan perlindungan penyu sisik (Eretmochelysimbricata), dan ekosistem terumbu karang.

 

Ada pengalaman yang menegangkan, saat kami tinggal di pulau Perak. Saat di Hope Island, kita sudah bertemu dengan Minang, pria paruh baya yang merawat pulau ini. Bahrun kemudian meminta izin tinggal di pulau Minang Perak. "O ya, lanjutkan kalau mau nenda sana, sudah tau harganya berapa orang?" Tanya Minang kepada kami. "Besok pagi saya harus sampai di sana (Pulau Perak)," tambahnya lagi. Kita sudah tahu biaya dan tanggung jawab hanya dua orang.

 

Kami sendirian di Pulau Perak, tiba-tiba terdengar suara perahu motor mendekati pulau itu. Saat itu pukul 19.15. "Mas, dengar suara motor? Matikan kamera dulu, Mas," pinta Yudi padaku. Perahu motor itu berhenti di dermaga, tapi kemudian tidak begitu ramping, bahkan kembali ke arah tanpa memulai mesin kapal. Setelah perahu tidak terlihat lagi, saya menghidupkan kamera lagi. Lalu, suara motor perahu terdengar lagi, kali ini benar-benar di dermaga.

 

"Mas, pisau itu dimana?" Kata Yudi, tapi saya tidak bisa menemukan pisau yang saya masukkan ke dalam tenda. Saya hanya bisa menemukan GPS. Kemudian, hanya dengan senter dan GPS, sementara Yudi membawa tripod sebagai tindakan pencegahan, kami menuju ke dermaga untuk mendekati kapal.

Karena tidak disengaja menyoroti senter ke wajah, saya hanya menanyakan tujuan ayah dan anak laki-laki ke pulau itu. Mereka dari Pulau Harapan, yang akan kembali saat minyak habis. "Kami sudah meminta izin kepada Pak Minang untuk tetap tinggal di pulau ini," kata Yudi. "Ya, saya Minang," jawab sang ayah. Lalu kita berani melihat lebih dekat. Kami tidak berpikir bahwa Tuan Minang akan datang malam ini, seperti yang dikatakan sebelumnya akan datang besok pagi.

 

Tak ketinggalan kita juga mengunjungi gundukan hangus di Kepulauan Seribu. Yang pertama adalah Gosong Perak. Hirst hanya pasir sepanjang hampir 50 meter, sedangkan lebarnya hanya lima meter. Tata letak gundukan pasir antara Pulau Lumba dan Pulau Perak ini.

 

Sedangkan GosongSepa terletak di sebelah timur pulau Sepa Kecil. Dalam perjalanan menuju hangus ini, ada pemandangan menakjubkan saat sekelompok burung camar tiba-tiba terbang dari GosongSepa karena menyambar gerombolan ikan ke permukaan. Bila tidak ada ikan yang muncul, mereka kembali ke GosongSepa. Kemudian terbang kembali saat melihat sekolah ikan yang kembali ke permukaan air.

 

Saya kagum dengan indra penglihatan burung yang tajam, namun lokasi munculnya ikan dimana burungnya lebih dari 400 meter. Dengan kesal, saya mencoba menghitung jumlah burung, tapi sulit untuk mendapatkan jumlah pastinya. Sandbar SandbarSepa lebih panjang dan lebih lebar dari Gosong Perak. Di bagian utara ada perairan dangkal, hanya dua puluh sentimeter dalamnya, dibatasi oleh atol di bagian utara. Saat berenang di perairan yang hangus ini, saya melihat sekilas benda bulat di dekat kapal motor kami. Bentuknya mengingatkan saya pada ikan pari. Lalu, saya langsung naik ke atas kapal.

 

Hirst terakhir yang kami kunjungi adalah hangus Laga, yang terletak di sebelah barat laut Sepa. Saat berjalan di perairan dangkal, saya melihat ikan pari. Meski sekilas, terlihat jelas flek warna biru dan hijau pada kulit. Dan saat menabrak kaki ikan karang, saya melompat karena takut ikan pari itu pernah saya lihat sebelumnya. "Itu ikan karang untuk bersenang-senang, Mas," kata Yudi sambil menertawakan saya.

 

Setibanya di tumpukan pasir dan bebatuan yang telah rusak, saya hanya bisa tersenyum melihat keindahan yang mengelilingi laguna luas yang berkelok-kelok. Dikelilingi perairan dangkal di bagian utara, Hirst juga dikelilingi oleh atol di selatan, dan antara Hirst dan atol membentuk laguna. Gundukan utama ditumbuhi pepohonan hijau dan semak belukar. "Harley, Mas, tempat keren!" Kata Yudi saat mereka sampai di gundukan pasir ini. "Kami hanya membeli ini hangus, Mas," tambahnya lagi.

 

Selama petualangan tiga hari kami di bagian utara Kepulauan Seribu, kami hanya bisa menikmati airnya. Meski tak banyak yang bisa dinikmati dari keindahan pulau ini hingga hampir sembilan puluh persen kepulauan ada milik pribadi.

Harga sewa kapal motor dan pulau mahal membuat wisatawan menjelajah dengan banyak anggota, dan ini merupakan salah satu ancaman bagi keindahan baharinya.

 

"Di masa lalu, pernah menjadi turis yang ramai di sini, namun mulai sepi saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998, dan ambruk pada tahun 2001," katanya.

"Jangan mengambil beberapa gambar disini, maka saya bisa dipecat jika tertangkap," kata penjaga pulau tersebut. "

Ia mampu memanjat pohon pinus setinggi tujuh meter agar bisa mendapatkan sudut foto di atas.

 

Saat terumbu karang menabrak kaki, saya melompat karena takut ikan pari itu pari. Saya lihat sebelumnya

Tags : laut ,Alam

Posting Terkait

Aktivitas

0 0

Asimilasi Budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa Berbaur dalam Perayaan Cap Go Meh Singkawang 2018

18 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Dapatkan Pengalaman Spektakuler di Festival Komodo 2018

18 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Pastikan Anda Datang ke Aceh pada Mei dan Juli

13 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Ini Dia Deretan Event di Jawa Barat yang Wajib Dikunjungi

13 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Tiga Event Menarik 2018 di Riau yang Tak Boleh Dilewatkan

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

4 Acara di Jogja yang Dijamin Seru Tahun Ini

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Meramal Nasib Lewat Ciam Si di Lasem

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Pastikan Anda Hadir ke Dua Event Bangka Belitung Ini

11 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Tiga Acara Khas Daerah Sumatera Utara yang Harus Anda Kunjungi di 2018

10 January 2018

Loading...