Sign In or Sign Up

  • Keeleganan Sejarah Yogyakarta

    slidebg1

Keeleganan Sejarah Yogyakarta

17 October 2017

Oleh: National Geographic Indonesia (Aisyah Hilal)

  

Rumah Agung yang menjadi pelarian ibukota.

 

Hampir setiap minggu, kami melewati Istana Kepresidenan yang terletak di km 0 Yogyakarta atau Jalan A. Yani, segmen Jalan Malioboro, tepat di seberang Benteng Vredeburg. Kemudian kita menjadi sadar, kita tidak begitu tahu bahwa orang bisa datang dan melakukan perjalanan ke Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Yogyakarta bernama Gedung Agung.

 

Pohon besar dan teduh menyambut kedatangan kami. Disertai Mugiyono, pemandu wisata istana. Dulu, yang sebagian besar di antaranya adalah pohon mangga dan beringin. Saat ini, ada juga pohon asam, ketepeng, sapodilla budru, dan matoa. Kebun ditata dengan baik dan rumput hijau yang menenangkan.

 

Eksterior bekas kediaman resmi Anthonie Hendriks Smissaert pada awal abad 19 ini didominasi oleh pilar besar gaya Eropa, terutama di bagian depan dengan kayu dan pintu kaca yang tinggi, lengkap dengan lekukan angin yang sesuai dengan iklim tropis. Chandelier (kristal chandelier susun) yang tersebar di banyak bagian bangunan. Dinding benteng dominasi putih bersih dipelihara kesan megah.

 

Gedung Agung menjadi sarat, ketika pemerintah Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada tanggal 6 Januari 1946, Yogyakarta resmi menjadi ibukota baru Indonesia. Gedung Agung menjadi Istana Kepresidenan, tempat tinggal Presiden pertama Ir Soekarno dan keluarga.

 

Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Spoor menyerbu Yogyakarta dan Majelis Dewan Menteri memutuskan pembentukan Pemerintah sementara sementara ketika Sukarno diasingkan ke Brastagih bersama-sama dengan KH Agus Salim dan SutanSjahrir. Sementara Wakil Presiden Hatta diasingkan ke Bangka bersama Pak Moh. Roem, Bapak AG Pringgodigdo, Bapak Assaat, dan Marsekal Suryadarma.

 

Pada tanggal 6 Juli 1949, Sukarno dan para pemimpin lainnya kembali ke Keraton Yogyakarta dan Yogyakarta kembali menjadi kediaman resmi Presiden. Sejak 28 Desember 1949, Presiden kembali ke Jakarta sehari sebelum penyerahan kedaulatan oleh Belanda. Sejak tahun 1991, Keraton Yogyakarta menjadi tempat resmi memperingati saat proklamasi kemerdekaan provinsi Yogyakarta.

Di tengah bangunan Orangtua, bangunan utama residensi sejak hampir dua abad yang lalu, ada kamar Garuda. Di sinilah Presiden menerima tamu. Di sini juga, Jenderal Sudirman ditunjuk oleh Sukarno sebagai Panglima Tertinggi dan memimpin pimpinan militer, dan kemudian menjalankan Perang Gerilya dengan bangga.

 

Di ruang Sudirman dan lukisan Diponegoro dipamerkan, begitu juga dengan patung torso Jenderal Sudirman dan Diponegoro.

Di ruang perjamuan, Presiden dan Wakil Presiden dapat menikmati makanan atau menghibur tamu negara. Art Space joglo dirombak sehingga layak dijadikan tempat menjamu tamu dengan artis dansa, musik dan busana tradisional indonesia. Atap Joglo masih mempertahankan keagungannya, dengan sentuhan cat warna kayu ukiran Yogyakarta yang pecah putih, merah marun dan emas.

 

Dari Gedung Utama, kita pindah ke Museum Seni terdiri dari dua lantai. Diisi dengan karya seni bernilai tinggi, seperti lukisan dan pahatan seniman modern dari Indonesia seperti Raden Saleh, S. Soedjojono, Basuki Abdullah, Dullah, Affandi, Harijadi, Soerono, Gambir Anom, Fajar Sidik, Bagong Kussudiardjo, dan Nyoman Gunarsa.

National Geographic Indonesia

 

Ada juga karya seniman asing yang memegang peranan penting dalam sejarah seni Indonesia antara lain Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Penemuan patung-patung di era Hinduisme, suvenir sebuah negara juga menghiasi beberapa sudut ruang museum.

 

Kunjungan tersebut berakhir di Function Room yang sebelumnya disebut Gedung Senisono. Bangunan ini dibangun pada bulan Juni 1822, dimulai dari tempat hiburan untuk masyarakat sipil dan militer Belanda.

Pada periode pasca-revolusioner, Gedung Senisono aktif digunakan untuk kesenian. Telah berfungsi sebagai bioskop (1952-1965), Galeri Seni Senisono untuk berbagai kegiatan seni berbagai cabang dan jenis seni (sejak 1967).

 

Ada juga bangunan khusus yang berfungsi sebagai penginapan bagi para tamu Presiden, baik tamu asing maupun tamu dari jajaran pemerintahan, yaitu Gedung Negara, Indraphrasta, Sawojajar, Bumiretawu dan Saptaphratala.

 

Sudah sekitar dua jam kami berkeliling kompleks istana. Pengalaman pertama ini membuat kami ingin kembali ke sana, dan dengan serius menikmati koleksi seni Keraton Yogyakarta yang tak ternilai harganya dan sejarahnya yang kaya. Keraton Yogyakarta hanya sebentar memainkan peran integral sebagai jantung ibu kota Republik Indonesia.

Tags : Budaya ,yogyakarta ,wisata sejarah

Posting Terkait

Aktivitas

0 0

Asimilasi Budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa Berbaur dalam Perayaan Cap Go Meh Singkawang 2018

18 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Dapatkan Pengalaman Spektakuler di Festival Komodo 2018

18 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Pastikan Anda Datang ke Aceh pada Mei dan Juli

13 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Ini Dia Deretan Event di Jawa Barat yang Wajib Dikunjungi

13 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Tiga Event Menarik 2018 di Riau yang Tak Boleh Dilewatkan

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

4 Acara di Jogja yang Dijamin Seru Tahun Ini

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Meramal Nasib Lewat Ciam Si di Lasem

12 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Pastikan Anda Hadir ke Dua Event Bangka Belitung Ini

11 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Tiga Acara Khas Daerah Sumatera Utara yang Harus Anda Kunjungi di 2018

10 January 2018

Loading...