Sign In or Sign Up

  • Asimilasi Budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa Berbaur dalam Perayaan Cap Go Meh Singkawang 2018

    slidebg1

Asimilasi Budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa Berbaur dalam Perayaan Cap Go Meh Singkawang 2018

18 January 2018

Perayaan Cap Go Meh dirayakan hampir di seluruh dunia. Namun, Cap Go Meh di Singkawang memiliki perayaan yang sedikit berbeda dengan perayaan yang dilakukan di wilayah lain. Selain memiliki ciri khas budaya tradisi, aneka pertunjukan yang disajikan pada perayaan Cap Go Meh di Singkawang menyerap dan berasimilasi dengan budaya lokal.

Seperti pertunjukan tatung misalnya, yang menjadi salah satu bentuk asimilasi budaya di Singkawang. Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Pawai tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia.

Keberadaan tatung dalam jumlah besar merupakan fenomena budaya khas Kota Singkawang saat perayaan Cap Go Meh. Sebagai pesta kebudayaan, pawai tatung memiliki sisi ritual religi yang cukup kental dan mencerminkan pembauran kepercayaan Taoisme kuno dengan animisme lokal yang hanya terdapat di Kota Singkawang.

Daerah Singkawang sendiri memiliki penduduk asli yakni Suku Dayak, Melayu yang berbaur dengan warga Tionghoa yang sudah lama tinggal di sana. Kesemuanya tidak beragama atau dikenal dengan animisme. Wilayah Singkawang awalnya merupakan bagian dari wilayah Sambas yang melingkupi Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Bengkayang. Sambas bermakna sam (tiga) bas (etnis), yang berarti penduduknya terdiri dari etnis Melayu Sambas, yang beragama Islam, peleburan dari berbagai suku atau etnis yaitu Melayu, campuran Tionghoa-Dayak Islam, Bugis, Jawa yang beragama Islam mengidentifikasi diri sebagai etnis Melayu.

Kedua etnis Tinghoa, yang beragama Samkaw (Tao, Buddha dan konfusius), Katolik, Protestan merupakan turunan Tionghoa perantauan, turunan campuran Tionghoa Dayak yang mengidentifikasi diri dalam etnis Tionghoa Indonesia. Ketiga, etnis Dayak, beragama Katolik, Protestan, Islam dan sebagian kecil animisme, mengidentifikasi diri dengan suku Dayak (penduduk asli Kalimantan).

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang merupakan perayaan yang berasal dari Tiongkok yang sejak lebih dari 250 tahun dibawa dan dirayakan di Sambas oleh orang Tionghoa Singkawang. Kemudian perayaan ini beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya, tradisi, dan ritual tradisional animisme setempat. Festival Cap Go Meh merupakan pesta rakyat terbesar di dunia dengan fenomena kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata di tanah air.

Tahun ini, Cap Go Meh Singkawang akan dihelat pada 3 Maret 2018 mendatang. Event pariwisata berbasis budaya Tionghoa ini merupakan salah satu andalan dalam mendatangkan wisatawan mancanegara ke Kalimantan Barat. Tercatat pada 2017, sebanyak 26 Duta Besar dari berbagai Negara datang untuk melihat festival Cap Go Meh. Event ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun, tepatnya hari ke-15 (lima belas) setelah perayaan Tahun Baru Imlek. Ratusan tatung/loya melakukan parade mengelilingi kota dengan atraksi-atraksi ekstrem beserta sekelompok pemukul gendang untuk mengusir roh jahat.

Diiringi genderang, peserta pawai mengenakan kostum gemerlap pakaian kebesaran Suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa silam. Atraksi tatung dipenuhi dengan hal mistik dan menegangkan. Para tatung ini melakukan atraksi mempertunjukkan kekebalan mereka, sesekali mereka harus minum arak, atau bahkan menghisap darah ayam yang secara khusus disiapkan sebagai ritual.

Para tatung diarak dengan jalan kaki, namun sebagian lain berdiri di atas tahta yang dipanggul oleh empat orang, layaknya pembesar dari negeri Tionghoa. Sambil memamerkan kekebalan tubuh dengan benda-benda tajam, tatung diarak berkeliling kota Singkawang. Menariknya, para Tatung itu sedikit pun tidak tergores atau terluka.

Bertempat di Stadion Kridasana, perayaan Cap Go Meh 2018 dipastikan akan berlangsung meriah. Hiasan seni lampion yang diperkirakan berjumlah 10 ribu buah akan mendominasi pusat kota, diantaranya dalam bentuk gapura/gerbang Cap Go Meh di jalan Pangeran Diponegoro tepat di samping pohon beringin/Bank BNI. Akan ada pula hiasan berbentuk 12 shio.

Ada banyak perlombaan disertakan dalam rangkaian acara tersebut. Tentunya dengan mempertahankan beberapa perlombaan yang rutin mengisi acara Cap Go Meh dengan ditambah beberapa perlombaan menarik lainnya, seperti lomba hias kampung, hias tempat tinggal, hias ruko dan lomba hias mobil. Diadakan juga kompetisi barongsai se-Kalimantan Barat, pemilihan Ako Amoy dan perlombaan karaoke.

Sembilan Naga (Qiu Lung) juga akan dihadirkan, dimana nantinya sembilan naga ini berbeda satu dan lainnya dengan sembilan warna menarik, yang rencanakan akan ditempatkan pada H-9 di Stadion Kridasana Singkawang. Pada puncak hari H Cap Go Meh akan ada prosesi mengantar 9 naga ke langit yaitu prosesi bakar naga.

Posting Terkait

Aktivitas

0 0

Yogyakarta Jadi Tempat Singgah Pertama Api Obor Asean Games 2018

18 July 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Meriahnya Perayaan Waisak di Jambi

17 Mei 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Nonton Bareng Fenomena Trilogi Lunar di ‘Bluemoon Festival’ FEST In Fest 2018

31 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

FESTInFest 2018 Himpun Potensi, Pengalaman, serta Kerja Sama Penyelenggara Festival dan Industri

30 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

FEST In Fest 2018 Persembahkan Bluemoon Festival sebagai Acara Puncak

25 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Kementerian Pariwisata Dongkrak Jumlah Wisman lewat Event Sensation 2018

24 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

Dapatkan Pengalaman Spektakuler di Festival Komodo 2018

18 January 2018

Loading...
Aktivitas

0 0

100 Wonderful Events: Pastikan Anda Datang ke Aceh pada Mei dan Juli

13 January 2018

Loading...